Sekarang Lo Nyesel Kan? Nyesel Kan Putusin Gue?

Sepertinya gue emang udah terjebak nyaman dengan produknya apple, terutama iPhone yang jadi gadget paling sering dipake dan memenuhi kebutuhan gue untuk produktivitas seharian. Emang baru kemarenan jadi user iPhone, dua ribu lima belas pake iPhone 4 dan terakhir sekitar seminggu yang lalu, tapi udah kayak sakau banget lah ini, mungkin karena penggantinya nggak sebanding dengan yang ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada sebuah hubungan antar manusia, bedanya ini dengan seonggok gadget. Jadi ya begini.


Kalo boleh gue menuliskan kegelisahan ini seperti sebuah surat, beginilah yang akan gue tulis,

Sempat sedikit ada rasa sesal karena telah tega merelakan, meskipun tak sepenuhnya rela. Sama sekali tidak sepenuhnya. Namun aku terlambat, karena es di kutub utara sudah mencair, tukang bubur sudah naik haji, sekarang yang ada hanya penyesalan yang setiap hari menjadi lalapan kehilangan.

Kamu tahu, nggak?

Kadang kalau sedang merinduimu, sering kali kutengok serupa kamu di luaran sana, mencoba untuk mengobati rindu dan belajar tegar namun ku tak bisa. Kemudian ku mencoba kembali untuk berpaling lagi darimu, namun ku tak bisa jauh, jauh, darimuuu~ maap kok jadi nyanyi.

Jika boleh didefinisikan, mungkin inilah yang dimaksud definisi kehilangan yang direncanakan, kehilangan yang sudah dipersiapkan sakitnya, sudah dipersiapkan penawarnya, namun ternyata lebih sakit dari yang dipersiapkan hingga nihil semua yang jadi penawar.

Kamu inget nggak?

Aku pernah melewati sebuah malam yang sunyi dimana biasanya hanya ada aku dan kamu yang selalu memberi irama dan lantunan khas udara dan heningnya malam kesendirian, tapi kali ini hanya aku seorang diri.

Kamu tau nggak?

Aku sempat risau hingga suatu malam aku pernah mendengar sayup-sayup suara kamu yang berpacu dalam melodi melalui sebuah lagu berlirik “sekarang lo nyesel, kan? Nyesel kan putusin gue?” Aku tau kamu bukan Young Lex, juga bukan Lex Sugar, tapi kamu tau lagunya. Sama, aku juga nggak tau kenapa aku tau lagu itu.

Tapi yang harus selalu kamu tau, bukan tanpa alasan aku melepaskanmu, bukan tanpa alasan aku merelakanmu, semua ini demi kebaikan dan kebahagiaan mereka yang selalu menjadi sumber kebahagiaanku seutuhnya. Terlihat klise, tapi memang begitu sebenernya. Semoga kamu bisa mengerti hal itu, aku yakin kamu mengerti, Iya kan?

Doaku sekarang dan seterusnya adalah, semoga aku bisa melewati fase yang paling sulit dari kehilangan dalam sebuah hubungan, yaitu merelakan dengan utuh menyeluruh tanpa lagi ada keluh mengaduh.

Oh iya, satu lagi, tidak menutup kemungkin suatu saat nanti aku akan menemukan serupa kamu atau mungkin lebih dari kamu. Maap, ya.

Warm hug from the arm that always hug you with no reason.

3 komentar

Terima kasih sudah membaca tulisannya. Silakan beri komentar yang sopan dan tidak mengandung SARA. Jangan lupa mampir lagi ke sini. Hatur nuhun