ThrwBlog by Indra Permana

Minggu, 30 Juni 2019

Aku Siap Untuk Menemuimu Lagi

Juni 30, 2019 2
Aku Siap Untuk Menemuimu Lagi
Kalo kamu inget, dulu kita kenal dari internet loh. Aku kenal kamu dari sebuah komunitas blog yang menurut aku keren banget waktu itu. Aku kenal kamu tanpa ada tujuan apapun selain dari hanya berkomunitas. Udah gitu doang.

Oke aku ceritain aja ya. Jadi waktu itu aku buka blog kamu, aku baca tulisan kamu yang me-review teman-teman kelasmu itu loh. Kesan pertama aku waktu itu biasa aja, biasa banget kayak baca postingan temen blogger yang lain, sama kayak blogwalking biasa aja, iya beneran. Sampe pada paragraf yang entah ke berapa, kok tulisan kamu makin aneh, manusia kok di-review, judgmental sekali kamu. Huh!

Tapi itu becanndaan doang kok, gue nggak semenilai itu juga ke kamu. Walaupun ya tetep aja ngerasa aneh banget sih kamu nge-review temen sekelas, untung tulisannya asik banget sampe aku bertemu dengan titik terakhir seraya berkata "yah udah beres aja aku baca postingannya.."

Nggak sampe di situ, aku langsung buka lagi tulisan lanjutannya. Iya, tulisan lanjutan kamu yang aneh itu, waktu itu kan kamu nulisnya dibikin episode gitu biar bisa nyaingin series Cinta Fitri. Kagok diedankeun kali ya kamu waktu itu tuh.

Baca, baca, baca. Akhirnya dibaca semua lah itu tulisan yang aneh tapi seru juga. Tetiba kepikiran lah ini orang yang nulis ini bakal seasik tulisannya juga nggak sih, mulai penasaran akutu sama kamu.

Namanya udah zaman media sosial banget kan, erffortless banget atuh nyari akun medsos seseorang mah, kadang mah emang suka dipajang juga di blognya, kayak kamu. It's easy peasy to catch you.

Pada akhirnya, kita saling kenal, saling bertukar sapa melalui aplikasi chatting yang populer banget waktu itu, apalagi lah kalo bukan Bahan Bakar Minyak.

Long story short, kita ketemu untuk yang pertama kalinya, kalo aku nggak salah, udah setahun lebih dari kita putus kan ya?


Kamu tau nggak kalo waktu pertama kali kita ketemu itu, aku senengnya minta ampun, degdegannya apalagi, pokoknya campur sari lah. Akhirnya, dari awal kenal di internet doangan, bisa ketemu juga. Aku yang dari kapan rindunya sama kamu, pas udah ketemu aja masih rindu juga. Semerindukan itu kamu.

Seharian kita menghabiskan waktu, aku tau dan ngerasa banget kalo realitanya nggak sesuai dengan ekspetasimu. Aku cuma meraba banget waktu itu, tapi kentara juga kalo kamu begitu. Koreksi kalo aku salah menilai ya.

Mungkin ekspetasimu, aku adalah manusia yang semenyenangkan kamu, tapi ternyata tidak. Aku sangat mengakui kalo aku memang tidak semenyenangkan itu. Tapi kamu, adalah yang mendobrak semua ekspetasiku, karena kamu ternyata lebih menyenangkan dari yang aku pikirkan. Aslina pisan.

Maap, aku menghancurkan segala ekspetasimu. Tapi to be honest, aku ini emang tipe orang yang harus banget dipancing, harus banget adaptasi, orangnya teh freak pisan. Padahal ya, lelaki mana yang bisa-bisanya menyia-nyiakan perempuan yang semenarik kamu. Gobloknya aku.

Di pertemuan kedua, aku melakukan hal yang sama. Kali ini aku selalu menyalahkan diri. Lagi-lagi, maapkan aku. Lagi.

Pada akhirnya aku menyerah saja pada diriku sendiri untuk bisa bersama kamu. Kamu pun sepertinya memang sudah menutup kesempatan itu untukku. Tapi, kalo kamu mau kasih aku kesempatan untuk bertemu lagi, entah untuk tujuan apapun itu atau dengan status apapun itu, aku nggak perlu mikir lagi untuk menjawabnya.

Harapanku cuma satu, untuk diriku sendiri, semoga aku bisa seperti yang biasanya aku lakukan segobloknya aku ketika bersama temenku. Menjadi seluruhku utuh dan memag aku harus nabung kepercayaan diriku sebanyak-banyaknya terlebih dahulu supaya aku siap untuk menemuimu lagi.

Terlalu egois, tapi aku menginginkan itu.

Selasa, 11 Juni 2019

Ide Bikin Konten di Instagram: Flatlay

Juni 11, 2019 4
Ide Bikin Konten di Instagram: Flatlay
Di zaman yang apa-apa dibikin konten media sosial kayak sekarang ini, ide-ide buat bikin konten makin luas aja ya, nggak cuma posting foto selfie, wefie atau coffee. Masih banyak lagi ide lain untuk mengisi konten di akun media sosial kayak yang sekarang lagi gue senengin ini. Flatlay.


Secara sederhana, flatlay adalah teknik pengambilan gambar dari atas objek (antara 45 - 90 derajat) dengan latar yang datar (flat). CMIIW. Objeknya bisa macem-macem, biasanya yang sering jadi objek flatlay itu makanan sama kopi, tapi makin ke sini makin banyak objek yang lebih menarik dari kedua itu.

Baca juga: 7 REKOMENDASI AKUN INSTAGRAM YANG COLORFUL

Teknik ini sebenernya udah sering banget gue pake untuk konten di media sosial, tapi beberapa hari ini gue mulai seneng lagi nih. Awalnya karena ada temen gue yang bikin konten flatlay di Instagram Stories, kemudian ngobrol-ngobrol, jadilah sebuah ide dadakan yang dieksekusi jadi seperti ini;


Hasilnya emang masih jauh banget dari bagus, karena semuanya masih mentah banget, termasuk idenya. Jadi pas foto itu dibikin ya seadanya aja semuanya, mulai dari konsep, alat sama bahan-bahannya juga. Dari hasil foto ini gue bisa tarik kesimpulan bahwa ada beberapa hal yang menurut gue penting banget ketika bikin konten flatlay walaupun dengan alat yang seadanya. Berikut beberapa diantaranya;

TEMA 

First thing first yang penting banget sih ini, biar kita bisa menyiapkan semua kebutuhannya.

LATAR

Banyak sekali media yang bisa dijadikan latar untuk flatlay. Cara yang paling mudah, kalo nggak punya latar atau ubin yang fotogenic di rumah adalah dengan cara pake karton kayak gue yang pake media karton doff warna hitam.

CAHAYA

Menurut gue cahaya yang paling oke dan yang paling murah bahkan gratis adalah cahaya alami alias cahaya matahari. Nah, karena cahaya matahari ini nggak bisa diprediksi alias bisa aja langit mendung seharian atau bahkan hujan, tapi kalo lagi cerah banget mah diusahakan fotonya dilakukan pada saat golden hour, entah itu mau pagi-pagi atau sore-sore, karena cahaya matahari tidak sedang berada di atas, jadi akan sangat membantu pencahayaan objek dan bisa jadi lebih dramatis.

Saran gue jangan pernah pake flash bawaan kamera atau smartphone karena cahayanya kurang oke dan akan jadi terlihat berlebihan.

KOMPOSISI

Kadang cuma ada dua atau bahkan satu objek doang pun kalo komposisinya pas mah keliatan keren-keren aja gitu. Nah, cara yang paling sederhana supaya bisa dapet komposisi yang pas menurut gue sih pake teknik rule of third aja, sederhananya adalah dengan menempatkan objek berada di antara grid. Selengkapnya bisa googling atau nanti gue bikin postingan lain untuk bahas rule of third.

EDITING

Berhubung menggunakan alat produksi yang sangat terbatas, editing harus banget dilakukan untuk mengatur beberapa komponen kayak cahaya, crop sama warna.

FILTER

Kalo yang ini optional sih, kalo memang dibutuhkan monggo karena kadang ada beberapa filter kayak di VSCO yang bisa membantu memunculkan warna dari objek flatlay itu sendiri.


Menurut gue demikian beberapa hal yang penting ketika akan membuat konten flatlay. Untuk memperluas ide dan inspirasi mengenai flatlay, berikut ada beberapa rekomendasi akun di instagram yang sering menggunakan teknik flatlay:

Alex Setiawan (@itsalexetiawan)

instagram flatlay


Phil Cohen (@thepacman82)


Jiew Vieri (@inijie)



Jadi gimana nih, udah mulai tertarik bikin konten foto flatlay di instagram belum? atau emang udah sering bikin konten flatlay? Kalo ada akun yang sering bikin konten flatlay boleh banget di-share di kolom komentar ya..

Jangan lupa share postingan ini ke temen-temen kalian yang lagi bingung mau bikin konten apa di instagram. Hatur nuhun~

Senin, 21 Januari 2019

Keresahan di Umur Seperempat Abad

Januari 21, 2019 13
Keresahan di Umur Seperempat Abad

Setahun terakhir ini gue nggak tau kenapa begitu worry dengan sesuatu yang sama sekali belum terjadi. Gue nggak tau kenapa bisa se-insecure itu sama diri gue sendiri.

Semenjak masuk ke umur seperempat abad lebih ini, gue mulai banyak memikirkan hal yang sebenernya belum terjadi dan belum tentu juga akan terjadi. Entahlah ini terjadi sama gue.

Apakah hal yang sangat mengganggu pikiran ini memang merupakan fase dimana setiap orang akan merasakannya ketika sudah mulai mencapai waktu tertentu? Kalo emang iya, berarti gue normal. I mean ini hal yang wajar terjadi, jadi bukan karena gue yang mulai insecure sama diri sendiri dan hanya gue sendiri aja yang merasakan.

Yang gue sadari dari keresahan gue sampe ke level ini adalah ketika orang-orang mulai menyinggung perihal pernikahan yang belum terpikirkan, tapi bukan berarti gue nggak bakal nikah atau bahkan nggak mau nikah, nggak. Gue cuma merasa kalo gue emang belum prepare aja untuk mencapai ke jenjang itu.

Gue ini bisa dibilang termasuk orang yang menginginkan perubahan yang lebih baik dari berbagai hal, termasuk masa depan. Jadi gue harus sangat mempertimbangkan dan mempersiapkan sesuatunya supaya ada perubahan. Termasuk dalam bahtera pernikahan nanti, iya oke takdir memang nggak bisa dilawan, tapi nasib masih bisa diubah.

Singkat kata gue ini sedang dalam tahap prepare untuk masuk ke level tersebut.

Buat gue, jenjang pernikahan dan rumah tangga itu tuh nggak bisa dilewati hanya dengan "ah, yaudah jalanin aja gimana entar lah" Gue bukan tipikal orang yang kayak gitu dan gue takut akan banyak hal yang nggak gue harap bakal kejadian kalo gue take that bullshit reason. Big no.

Nikah itu nggak hanya bersenang-senang hidup bersama orang yang kita cintai doang. Buat gue mah lebih dari itu. Nikah itu komitmen yang berjangka panjang. Nikah itu janji ke banyak pihak, dan sejatinya janji itu harus ditepati.

Banyak sekali hal-hal yang harus dipersiapkan untuk mulai mendekati atau bahkan masuk ke jenjang itu. 

WTF, ini kenapa jadi mengerucut ke pembahasan pernikahan segala atuh euy lah. Never mind, mungkin inilah yang selama ini gue resahkan. Entahlah gue ini lagi overthinking atau emang lagi masanya.

Balik lagi ke pertanyaan gue di atas, ini gue doang atau kalian juga yang ngerasain hal-hal kayak gini? Maap nih, postingannya agak serius dikit.

Jangan lupa komen dan share kalo postingan ini bermanfaat juga buat orang lain. Hatur nuhun.

Senin, 14 Januari 2019

Ternyata Begini Rasanya Naik Kereta Merak - Rangkasbitung

Januari 14, 2019 8
Ternyata Begini Rasanya Naik Kereta Merak - Rangkasbitung
Udah tiga tahun lebih gue merantau di Merak Banten, tapi belum pernah nyobain pisan naik moda transportasi kereta, padahal jarak dari tempat tinggal ke stasiun nggak terlalu jauh, malah sering naik bis kalau mau bepergian lumayan jauh.

Alasan sebenernya bukan karena jarak ke stasiun juga sih, tapi karena emang nggak tau juga kalo di sini ada kereta penumpang, cuma bisa denger suaranya doang dan mengira kalo itu cuma kereta pengangkut barang buat ke pelabuhan, ternyata nggak gitu.

Long story short, minggu kemaren gue mengagendakan untuk pergi ke Rangkasbitung pake kereta. Niat awalnya mah cuma buat nyobain naik kereta doang, tapi ya daripada cuma kayak gitu mendingan sambil maen aja ke mana kek yang ada di sana.


Dari hasil sok-sok riset, gue dapet ide dari #WeekendGatelWay by @KrisnaERLG di twitter buat kemana-mananya kalo udah di Rangkasbitung. Tujuannya nggak banyak emang, tapi kayaknya cukup menarik daripada cuma turun dari kereta terus balik lagi. Tujuannya cuma dua, yaitu ke Museum Multatuli sama ke Perpustakaan Umum Saidja, sisanya ya paling ke Alun-alun sama ke Mesjid Agung.

Ini adalah kali kedua gue naik kereta setelah waktu pertama kali circa 2015 dengan tujuan Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Rasanya mah masih excited seperti pertama kali, jugijag-gijug-gijag-gijugnya juga masih sama, nggak berubah jadi tronjal-tronjol. Harga tiketnya murah banget, nggak nyampe 80 juta, cuma tiga ribu rupiah.


Beberapa hal yang bikin enak dari naik kereta daripada naik bis adalah kita bisa melihat banyak hal yang nggak bisa dilihat oleh bis atau kendaraan lain yang nggak punya jalur khusus kayak kereta. Selain itu, naik kereta bisa jadi transportasi yang nyaman untuk baca buku dan yang paling penting adalah adanya colokan di setiap tempat duduknya, itu. Batre mah aman pisan lah pokoknya.


Ini salah satu pemandangan yang gue dapet selama perjalanan. Sesuatu hal yang baru buat gue, karena biasanya cuma ngeliat pabrik di sana-sini, kali ini bisa beneran ngeliat sawah yang membentang luas sejauh mata memandang.

Perjalanan dua jam dari Merak ke Rangkasbitung sama sekali nggak kerasa lama karena gue menikmati banget setiap jugijag-gijug-gijag-gijugnya. Obrolan seru selama perjalanan dengan temen gue juga menambah waktu perjalanan jadi singkat. Sisanya ya karena fasilitas keretanya yang udah cukup untuk membuat nyaman.

Suprise pisan sama kebersihan keretanya euy. Dari awal masuk gerbong sampe di stasiun akhir, gue nggak menemukan sampah berceceran, penumpangnya udah mulai sadar kebersihan juga kayaknya. Sempet ngeliat ada anak kecil yang numpahin air ke lantai gerbong dan nggak lama kemudian ada petugas kebersihan kereta yang sigap segera membersihkannya. Good job, sir!

Ada satu hal yang gue lupa, nggak nyobain pipis di toiletnya, jadi nggak tau kebersihan sama kelayakannya, tapi kalo dilihat dari keseluruhan awak keretanya mah bisa dipastikan toiletnya bersih dan layak juga.

Baca juga: Malam Pertama Gue Menaiki Kereta


Petugas kereta sudah memberi informasi bahwa kereta akan segera sampai di stasiun terakhir yaitu Stasiun Rangkasbitung. Gue dan temen gue bersiap mendekati pintu, begitu keluar gerbong tetiba kembali teringat waktu keluar dari gerbong di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Ah sudahlah.


Stasiun Rangkasbitung kala itu ramai sekali, sama seperti netizen yang mengomentari hal viral di media sosial. Lumayan chaos tapi masih bisa diatasi karena dialihkan oleh suasana dan pengalaman baru. Oh Ternyata Begini Rasanya Naik Kereta Merak - Rangkasbitung.

Ada yang pernah naik kereta dengan tujuan yang sama juga nggak nih?

Rabu, 09 Januari 2019

7 Rekomendasi Akun Instagram Yang Colorful

Januari 09, 2019 3
7 Rekomendasi Akun Instagram Yang Colorful
Scrolling hape udah jadi kegiatan yang sering dilakukan banyak orang di zaman sekarang, termasuk gue pribadi. Dalam sehari pasti ada waktu dimana buka smartphone, buka instagram kemudian scrolling, scrolling dan stalking. Yang terakhir itu kondisional, tergantung lagi kangen apa nggak, kalo kangen ya stalking instagramnya aja.


Ngomongin soal instagram, bisa diperkirakan udah banyak orang yang punya akun media sosial berbagi foto dan video ini. Banyak orang berlomba-lomba bikin foto yang bagus dengan berbagai konsep, banyak juga orang yang bingung mau upload foto apa karena nggak punya konsep dan nggak ada inspirasi buat motret apa.

Daripada bingung yang nggak berujung dan biar beranda instagram kalian nggak gitu-gitu mulu, gue mau ngasih rekomendasi beberapa akun yang punya konsep feed colorful nih, kali aja di antara kalian ada yang belum punya konsep untuk feed instagramnya, bisa coba yang ini. Berikut 6 Rekomendasi Akun Instagram Yang Colorful versi gue

1. @happymundane (Jonathan Lo)






Jadi gimana nih, udah dapet pencerahan belum buat bikin konsep feed yang colorful? Buat yang kepo, kalian bisa langsung meng-klik namanya atau bisa langsung follow ya.

Selain akun di atas, ada lagi nggak nih akun instagram yang colorful favorit kalian? Bagi-bagi dong.. Share di kolom komentar ya. Go!

Hatur nuhun,

Minggu, 14 Oktober 2018

Menjajal Masjid Istiqlal

Oktober 14, 2018 6
Menjajal Masjid Istiqlal
Masjid Istiqlal adalah salah satu bangunan yang iconic di Jakarta atau bahkan di Indonesia. Gue masih inget banget dari zaman masih kecil sampe sekarang, Masjid Istiqlal ini selalu ditayangin di TV nasional kalo lagi melaksanakan shalat ied tiap lebaran dan gue selalu nonton sambil makan opor ayam sama ketupat.

Dari dulu pengin banget maen ke sana, itung-itung mengobati rasa penasaran gue dari kecil yang cuma bisa nonton di TV doang. Kebetulan, minggu lalu gue ada janji sama temen di Jakarta, jadi bisa lah ya mewujudkan.

Hari minggu pagi gue berangkat dari Merak menuju Terminal Tanjung Priok, pas gue turun dari bis, ternyata temen gue membatalkan rencana, alhasil gue udah nggak ada tujuan lain selain ke Masjid Istiqlal.

Jam makan siang datang, perut mulai klontang-klontang. Lanjutlah gue ke daerah Kelapa Gading buat nyari makan, nyampe di sana muter-muter nggak jelas dan nggak jadi makan, berangkat lagi ke Joni Steak, ternyata penuh, jalan kaki dikit nemu Mie Ayam, makan.

Waktu shalat Ashar segera datang, gue langsung order OJOL dengan tujuan Masjid Istiqlal, akhirnya. Sampai di sana, gue langung ambil kamera dan jepret.


Seperti orang-orang norak lainnya, gue juga sangat excited bisa masuk ke sana dan mewujudkan sebuah keinginan remeh yang mungkin nggak diimpakan semua orang. Yang jelas waktu itu gue bahagia banget cuy, untung kebahagiaan gue masih bisa terjangkau ya.

Kalo diliat dari TV, yang sering disorot itu kebayakan dalemnya doang ya, luarannya mah cuma bentar-bentar. Oleh karena itu, gue puas-puasin explore setiap sudut yang ada di sana. Ada satu pemandangan yang kok gue baru tau kalo di sana ada yang beginian..


Pas gue motret itu, ada semilir angin sejuk meniup seluruh badan gue yang kucel dan mulai berkeringat sore itu. Sambil menunggu waktu ashar datang sebentar lagi, gue coba keliling ke sana ke mari tanpa membawa alamat. Tiba-tiba ada segerombolan yang kayaknya bukan dari TK Tadika Mesra yang sedang study tour, tapi segerombolan bule yang sedang dipandu oleh seorang pria paruh baya. Teriaknya kenceng banget, mengalihkan banyak perhatian orang di sekitar termasuk gue.


Adzan ashar berkumandang, banyak orang mulai memasuki masjid untuk melaksanakan shalat. Ketika mulai masuk, auranya mulai terasa. Gue menginjakkan kaki di tempat yang biasa gue liat di TV dan sekarang nggak cuma liat, tapi juga merasakan atmosfer sekelilingnya. Woh!

Ba'da ashar gue nggak langsung ke luar masjid, tapi coba jalan-jalan dulu di sekitar. Lagi-lagi gue dibikin takjub dengan bangunannya, tanpa pikir panjang lagi gue langsung motret sana-sini,




Sebenernya belum puas dengan hasil yang gue dapet waktu itu, masih ada yang bisa di-explore, tapi karena waktu udah mulai sore dan harus udah pergi ke tujuan selanjutnya.

Sebelum pergi, gue coba ambil satu foto dengan angle yang berbeda dan hasilnya keren. Foto yang ini membuat gue puas untuk menutup kunjungan pertama gue ke Masjid Istiqlal.


Buat orang yang tinggal di sekitar Masjid Istiqlal atau mungkin penduduk asli Jakarta, tempat ini bisa jadi tempat yang biasa aja karena udah nggak asing lagi, tapi bagi kami yang berada di luar Jakarta, bisa jadi tempat yang luar biasa. Jadi, siapa nih yang belum pernah menjajal Masjid Istiqlal?

Semua foto akan dan sudah dipost di instagram @indrathrw Follow gih!

Selasa, 25 September 2018

Decision

September 25, 2018 2
Decision
Seperti malam-malam sebelumya, gue selalu menyempatkan untuk beli buah-buahan, entah itu beli buah secara utuh atau cuma beli es buah tanpa gula dan sirup. Sambil nunggu pesenan es buah dateng, gue buka Instagram dulu biar nggak kuku. Scroll-scroll sampe kemudian nemu suggest people to follow dan gue nemuin akun temen waktu kecil, nggak deket banget tapi pernah berinteraksi karena kami pernah sekelas di pengajian.

Setelah gue follow akun dia yang digembok, tak lama kemudian dia menerima dan mengikuti balik akun gue, selang semenit dia mengirim pesan yang isinya menanyakan siapa gue. Selama menggunakan Instagram dan sudah banyak mengikuti akun yang digembok ataupun nggak, belum pernah sama sekali ditanya kayak gitu, baru kali ini dan inipun orang yang saling kenal sebelumnya.


Setelah gue memperkenalkan diri untuk yang kedua kalinya, dia tetep aja nggak ngenalin sama sekali. Padahal kami ini tinggal di satu lingkungan yang sama, bahkan di sebuah tempat dan waktu yang sama, berinteraksi bersama. Tapi dia tetep nggak ngenalin gue.

Tanda tanya besar mulai muncul berbarengan dengan ketidakpercayaan.

Mungkin dia cuma bercanda atau mungkin harus dikasih clue yang lebih detil, tapi ternyata nihil, dia tetep nggak ngenalin gue, sampai ada satu kalimat yang membuat gue merasa bersalah karena berusaha menjejali masa lalu supaya dia mengenali gue lagi.

"So many hurt at my past and i choose to forget many things."

Gue yang tadinya lagi asik makan buah dan semangat untuk memperkenalkan diri gue (lagi), seketika langsung merasa bersalah.

Yang langsung ada di pikiran saat itu adalah gue harus menerima keputusan dia untuk melupakan banyak hal termasuk melupakan gue dan segala remeh temeh di kehidupan dia. Sempat terbersit pengin nanyain ada rasa sakit apa di masa lalunya sehingga dia memilih untuk melupakan banyak hal, tapi tanpa pikir panjang gue langsung mengurungkannya.

Waktu kami saling kenal dulu, dia adalah anak yang baik, pintar dan ceria seperti kebanyakan anak-anak seusia dia waktu itu, tapi siapa yang tau ada sesuatu yang membuat dia menjadi seperti sekarang dan membuat dia memilih keputusan untuk melupakan banyak hal karena ada banyak rasa sakit yang dia rasakan.

Setiap orang memiliki masa lalunya masing-masing begitupun kita, itu pasti. Kita nggak pernah tau apa yang terjadi dengan masa lalu seseorang dan kita nggak punya hak untuk mengetahui atau bahkan mengoreknya.

Dari dia gue belajar untuk menghargai keputusan yang diambil seseorang for a whole life dan belajar untuk terus moving on walau pernah dihantam sakit pada masa lalu. Selain itu, gue juga belajar untuk berani memutuskan sesuatu yang besar untuk hidup yang lebih baik.